Ekonom Senior Sebut Krisis Tahun Ini Bakal Lebih Parah Dari 98

Redaksi

Wednesday, 19 August 2020 | 16:40 Wita


RAGAM.ID, JAKARTA – Ekonom senior Rizal Ramli menyebut krisis yang muncul akibat pandemi Covid-19 di Indonesia, lebih parah dari krisis ekonomi pada 1998 silam.

Rizal menerangkan, perekonomian di daerah, khususnya luar Pulau Jawa, masih bisa bergeliat pada saat krisis 1998. Pengusaha lokal masih bisa mengekspor cokelat dan vanili.



“Secara ekonomi, ini seperti krisis ’98 plus, plus, plus. Sebab ’98, yang terpukul yang besar-besar. Di daerah-daerah pada saat rupiah jatuh dari Rp 3 ribu ke Rp 15 ribu, di daerah ramai ekspor cokelat, vanili,” ucap Rizal, Rabu (19/8).

Namun, ujarnya, Indoensia tidak memiliki kapasitas berlebih pada krisis ekonomi saat ini. Nilai tukar rupiah anjlok dan Indonesia tidak mencatat peningkatan ekspor.

“Dengan cara penanganan yang amatiran, dengan kelemahan kepemimpinan dan visi, bisa-bisa krisis ini akan lama lagi. Bisa satu setengah tahun. Saya yakin rakyat tidak siap,” terang Rizal.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) itu berharap pemerintah melakukan perubahan untuk menyelamatkan Indonesia dari kemerosotan ekonomi.

Terkait caranya, Rizal berbicara soal kebijakanya saat menjabat Menko Ekuin era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Ketika itu, Rizal membujuk Gus Dur agar menaikkan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI-Polri, pensiunan ASN, serta pensiunan TNI-Polri.

Menurut Rizal, ekonomi akan berjalan ketika gaji kelompok pekerja tersebut dinaikkan. Ujungnya pertumbuhan ekonomi bisa naik dari yang tercatat saat periode kepemimpinan Gus Dur yakni minus tiga persen.

“Kami genjot dalam 21 bulan, jadi 4,5 persen (pertumbuhan ekonominya). Naik 7,5 persen. Ekspor kami naikkan dua kali. Kemudian saya bujuk Gus Dur. Pegawai negeri, pensiunan dan ABRI, hidupnya susah, kecuali yang koruptor, Saya usul, Gus, naikkan gaji PNS, ABRI, dan pensiunan sebesar 125 persen dalam 21 bulan,” ungkap dia.

“Argumentasinya sederhana, karena TNI, ABRI, PNS, dan pensiunan, tidak punya uang. Begitu mereka ada uang, dia belanja semua. Akibatnya sektor retail hidup, ekonomi hidup,” papar dia.

(jjpn/ragam)



BACA JUGA

SULSEL TODAY