Hasil Penelitian, Calon Ibu Kota Negara Rentan Dilanda Longsor Bawah Laut

Redaksi

Saturday, 25 April 2020 | 14:34 Wita

Presiden Jokowi bersama Gubernur Kaltim Isran Noor saat meninjau lokasi untuk ibu kota negara di Kecamatan Sepaku, PPU, Kaltim, Selasa (16/12). Foto: M Fathra Nazrul Islam/JPNN

RAGAM.ID, JAKARTA – Peneliti senior Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang juga ahli tsunami Widjo Kongko mengatakan, sesuai hasil penelitian, calon Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur rentan dilanda smong dari sumber longsor bawah laut.

Dengan volume ~4 juta meter kubik (m3) bisa menimbulkan smong setinggi lebih dari 15 meter (m) seperti di Papua Nugini pada 1998.

“Kami pernah sampaikan tahun lalu. Kaji detil perlu untuk siapkan PRB-nya,” kata Widjo Kongko dalam cuitannya soal perlunya upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bagi calon IKN berkaitan dengan hasil kajian tersebut, Kamis (23/4).

Smong merupakan istilah tradisional masyarakat di Pulau Simeulue, Aceh, untuk menyebut sebuah gelombang laut besar yang melanda setelah sebuah gempa bumi menghantam.

Tsunami di Palu dan Krakatau menjadi contoh smong yang terjadi beberapa tahun lalu yang diakibatkan oleh longsor bawah laut.



Smong dari sumber longsor di Indonesia kejadiannya lebih banyak dari yang diperkirakan semula,” cuitnya lagi menjawab ANTARA.

Meski demikian, Widjo mengatakan kajian soal longsor bawah laut yang mengakibatkan smong di Indonesia tidak banyak. Di wilayah barat Indonesia, dari survei batimetri detil cacat-parut bekas longsor bawah laut menjadi kajian kolega peneliti di Potsdam.

Sementara di Indonesia tengah dan timur, atau Laut Banda, suspek longsor bawah laut lebih banyak lagi. Smong longsor bawah laut bisa sangat tinggi, lebih dari 50 m atau 100 m, ujar dia.

Cuitan awal Widjo terkait potensi smong di calon IKN tersebut mengomentari berita yang dilansir BBC News berjudul Tsunami risk identified near future Indonesian capital pada Rabu (22/4). Tim peneliti Inggris dan Indonesia menggunakan data seismik untuk menginvestigasi sendimen dan struktur bawah Laut Makassar, mereka memetakan bukti longsoran-longsoran bawah laut purba di Selat Makassar antara Pulau Kalimatan dan Sulawesi.

Dari kajian awal memang jika ada longsoran bawah laut besar terulang saat ini, itu akan memicu tsunami yang mampu menggenangi Teluk Balikpapan, sebuah area dekat dengan Ibu Kota Negara yang diusulkan. Namun demikian tim peneliti internasional itu sangat berhati-hati terhadap reaksi yang berlebihan, mereka masih harus banyak melakukan penilaian terhadap kondisinya dengan tepat.

Sebagai catatan, ada sejumlah tsunami yang menghancurkan di Indonesia dalam 15 tahun terkahir, dipicu oleh berbagai mekanisme.

Gempa Megathrust dan tsunami di lepas pantai Sumatera di 2004 menelan korban 220.000 jiwa di sepanjang wilayah Samudera Hindia, 165.000 korban tersebut ada di Sumatera menjadikan bencana alam terburuk dalam 100 tahun terakhir.

Lalu mekanisme tsunami Palu pada 28 September 2018 masih belum pasti namun kemungkinan dihasil dari kombinasi gempa bumi besar dari seafloor rupture dan longsor bawah laut.

Dua gelombang, tercatat dengan ketinggian maksimal lebih dari 10 m terjadi, 4000 korban jiwa karena sapuan gelombang tsunami dan likuefaksi akibat goncangan sesmik.

Dan pada Desember 2018, bencana alam tersebut diikuti oleh tsunami Anak Krakatau, di mana sayap gunung runtuh yang kemungkinan dipicu oleh erupsi gunung berapi tersebut dan menghasilkan tsunami yang menelan korban sekitar 400 jiwa di pesisir Jawa dan Sumatera.

Potensi longsor Publikasi ilmiah spesial berjudul Indonesian Throughflow as a preconditioning mechanism for submarine landslides in the Makassar Strait milik Rachel E Brackenridge, Uisdean Nicholson, Benyamin Sapiie, Dorrik Stow dan Dave R Tappin yang diterbitkan Geological Society pada 1 April 2020 menjelaskan perihal peran penting Selat Makassar sebagai pintu gerbang utama Arus Laut Indonesia (Indonesian Throughflow) yang mengangkut air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia.

Penelitian tersebut baru-baru ini mengidentifikasi pemindahan massal sejumlah deposit dari bagian Cekungan Pleistosen Utara Makassar dari yang moderat lebih dari 10 km3 sampai dengan yang raksasa lebih dari 650 km3. Mayoritas longsor bawah laut yang membentuk deposit berasal dari pro-delta Mahakam, dengan arah condong ke selatan.

Brackenridge dan rekan-rekannya mengatakan melihat dengan jelas bukti dari erosi arus laut, terjadi transpor lateral dan deposisi kontur di sepanjang lereng bagian atas.

Hal itu menunjukkan Arus Laut Indonesia bertindak sebagai sabuk konveyor lembah yang panjang, mengangkut sendimen ke selatan delta, di mana laju sendimentasi menjadi cepat dan hasilnya lereng kemiringan semakin curam dari longsor bawah laut yang berulang.

Karena itu, daerah itu berpotensi rawan tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah laut.

Kembali Brackenridge menjelaskan telah mengidentifikasi perbedaan antara fault rupture yang bersejarah memicu tsunami (berlokasi sepanjang zona patahan Palu-Koro) dan distribusi dari deposit yang terpindahkan secara besar di bawah permukaan.

Jika identifikasi runtuhan besar baru tersebut tsunamigenik, mereka bisa saja merepresentasikan bahaya yang sebelumnya terabaikan di wilayah tersebut.

Selat Makassar membentuk jalur laut dalam yang memisahkan Kalimantan dari Sulawesi. Dengan lebar dari 100 km hingga 200 km dan panjang hingga 600 km. Sementara Cekungan Makassar Utara memiliki panjang 340 km dan lebar 100 km dengan kedalaman 200 hingga 2000 m, dan Cekungan Makassar Selatan menunjukkan kedalaman sama dengan panjang 300 km dan lebar 100 km.

Sedangkan dasar cekungan lincir, tidak ada bukti gangguan tektonik. Pemetaan seismik di lereng depan Delta Mahakam menunjukkan sejumlah besar fitur pengendapan air dalam, termasuk saluran turbidit, tanggul dan bentang serta deposit besar yang terpindahkan.

Berdasarkan studi analog deposit besar yang terpindahkan di tempat lain, kemungkinan longsor bawah laut yang menghasilkan endapan yang dipetakan adalah tsunamigenik.

Gelombang yang dihasilkan dari longsor bawah laut yang dipetakan dalam penelitian itu dapat berdampak pada garis pantai Sulawesi dan Kalimantan di wilayah yang sebelumnya tidak terpengaruh oleh peristiwa sejarah.

Karena itu, penting untuk memahami mekanisme pemicu peristiwa ini dan bahayanya. Pekerjaan di masa depan akan bertujuan untuk membatasi penelitian pada frekuensi longsoran bawah laut yang memicu tsunami, dan peran iklim dan permukaan laut sebagai pemicu longsor bawah laut.

Brackenridge dan rekan penelitinya mengusulkan pemodelan gelombang tsunami diperlukan untuk menguji skenario kegagalan kemiringan dan mengidentifikasi wilayah pesisir dengan risiko tertinggi. (antara/jjpn)



SULSEL TODAY