Mengenal Sosok Ketua STIE AMKOP : Muda, Cerdas dan Bersahaja.

Redaksi

Thursday, 20 August 2020 | 11:38 Wita


RAGAM.ID, MAKASSAR – Kampus manajemen dan bisnis STIE AMKOP Makassar telah menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, terlebih di kawasan timur Indonesia.

Sekitar 5 tahun belakangan, diketahui kampus ini, tak henti-hentinya mencetak berbagai prestasi dan inovasi, yang tentunya telah menerbangkan nama kampus AMKOP menjadi perguruan tinggi top di kawasan timur Indonesia.

Namun, suksesi itu tak datang dengan begitu saja, di balik semua itu, kita akan berkenalan dengan Ketua STIE AMKOP, Bahtiar Maddatuang. Sosok ekonom muda yang dikenal punya pribadi yang cerdas dan bersahaja.

Menganai hal tersebut, tim Ragam.id melakukan wawancara mendalam dengan sosok Bahtiar Maddatuang terkait suksesinya memimpin STIE AMKOP

Bagaimana kabar hari ini pak?



Alhamdulillah, baik. Seperti Biasanya.

Pak Rektor, sudah berapa lama memimpin Amkop?

Sejak tahun 2014. Ini sudah periode kedua saya memimpin STIE AMKOP. Sudah 6 tahun.

Bisa berbagi cerita terkait suksesi memimpin Amkop?

Yah, Sekarang kami boleh berbangga. Karena STIE AMKOP sekarang sudah jadi kampus ekonomi bisnis ternama di Indonesia Timur. Pada 2018, kami berhasil menjadi peringkat pertama, dari 4000 kampus yang masuk dalam kategori sekolah tinggi di kawasan Sulawesi. Pada 2019 dan 2020 kami peringkat 3 di Indonesia Timur.

Visi, inovasi dan jaringan. Penguatan ketiga variabel itu, yang saya kolabasikan selama kepemimpinan saya.

AMKOP awalnya adalah kampus besar. Salah satu kampus tertua. Ini tahun 1962 berdiri. Dulunya ini ikatan dinas, namanya Akademi Koperasi Negara. Kemudian jadi swasta. Dan sempat down, karena terhantam efek citra miring koperasi di masa lalu.

Tapi semenjak saya datang membawa visi, nama AMKOP harus kembali jaya, menjadi kampus top Indonesia. Itu mengapa saya menambahkan dua program studi baru (Digital Marketing dan Kewirausahaan), mengembangkan program pascasarjana dan membuka program doktoral. Karena sejak awal, saya punya visi, meng-upgrade AMKOP menjadi kampus Institut. Dan sekarang kami sedang bergegas. Insyaallah tahun ini sudah bisa terwujud. AMKOP bakal jadi Institute Manajemen dan Bisnis Indonesia

Tak hanya itu, saya juga lakukan berbagai inovasi seperti membuka magang BUMN bersertifikafikat-bergaji, program magang internasional (Australia dan New Zaeland), KKN internasional, kelas internasional double-degree, dan masih banyak lagi.

Itu semua tidak terlepas dari penguatan jaringan selama masa kepemipinan saya. Dimana mencoba menjalin kerjasama dengan BUMN-BUMN top di indonesia, seperti Pertamina, Semen Tonasa; PT. IKI; PT. Kereta Api Indoneisa; Bank Mandiri; dan PT. Pelindo IV, serta menjalin MoU dengan beberapa perguruan tinggi di berbagai belahan dunia.

Apa program bapak yang membedakan kampus Amkop dengan Kampus lainnya?

Selain beberapa program inovasi yang saya sebutkan di atas. Kami punya dua program studi baru bisnis digital dan kewirausahaan, hanya AMKOP dan UNM yang buka program studi itu. Kami juga mendapat predikat kampus pertides (perguruan tinggi desa), di sulsel cuman ada tiga, Unhas, UMI, dan AMKOP.

Sejauh ini juga, AMKOP sudah menjalin MoU dengan beberapa kampus top dunia seperti Temple University, Amerika; Tafe Queensland, dan lain-lain.

Kalau boleh tahu, seperti apa rintangan memimpin kampus ini pak?

Rintangannya, yaah itu saja. Tak mudah memimpin kampus. Karena di kampus ada professor, doktor, dan ada mahasiswa. Tentu tidak mudah menghadapinya. Tapi, disitulah seni sebuah kepemimpinan.

Saya dengar sejumlah lulusan AMKOP banyak berkarir di pemerintahan bahkan politik, ya Pak? Siapa saja dia?

Bupati Mamuju Tengah (Bupati Mamuju Tengah) itu kan alumni AMKOP. Namun, alumni AMKOP pada umumnya lebih banyak terserap di BUMN, ASN, dan menjadi pengusaha. Seperti itu catatan kami sejauh ini.

Kalau di Amkop saat ini jumlah mahasiswanya berapa pak, mahasiswa nya berasal dari mana saja?

Ada ribuan, umumnya berasal dari tiga provinsi, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Pak, saat berada di lingkungan kampus, biasanya apa yang membuat bapak tidak mood?

Tidak ada. Karena saya orangnya kalau bekerja selalu komitmen dan sepenuh hati.

Di tengah Pandemi virus Corona, bagaimana cara AMKOP melaksanakan protokol kesehatan?

Kami belum melaksanakan pembelajaran tatap muka, sesuai intruksi dari Kemendikbud. Hanya proses pelepasan mahasiswa KKN yang kemarin itu, kami lakukan secara tatap muka. Itupun kami lakukan dengan sangat hati-hati, dengan menggunakan protokol kesehatan yang super-ketat.

Pak, di media sosial, beberapa nitizen sedang heboh memperbincangkan bapak bakal maju sebagai calon Gubernur Sultra, apa benar ya?

Iya benar, Insyaallah pada Pilgub Sultra tahun 2023 nanti.

Pak, Kenapa bukan di Sulsel aja? Saat Pilgub 2024 nanti?

Saya ini kelahiran Kolaka. kampungnya Ibu saya di situ.

Saya itu bangun provinsi saya. Karena Sultra itu sebenarnya bisa menjadi provinsi yang paling makmur di kawasan Sulawesi, tapi nyatanya menjadi tertinggal. Di sana itu ada dua potensi kekayaan. Pertama, potensi sumber daya alam, misalnya nikel, emas, kakao, dan cengkeh. Dan yang kedua, potensi parawisata, semisal Wakatobi, itu sudah sudah masuk kategori destinasi wisata internasional.

Sehingga Sultra itu wajib untuk maju melampau provinsi-provinsi lainnya. Itu mengapa saya mengusung tagline “Sultra Berdaulat”.

Apakah gagasan ini (Sultra Berdaulat) ada hubungan dengan latar belakang bapak sebagai seorang ekonom?

Oh iya jelas. Sultra berdaulat itu hasil refleksi saya menyimak kondisi Sultra. Sebenarnya ada beberapa persoalan yang sebenarnya harus dibenahi di sana.

Pertama, di Sultra itu kan banyak tambang dan banyak pabrik. Itu semua merupakan sebuah investasi. Artinya di Sultra itu ada banyak dana CSR yang beredar, tapi belum berkontribusi efektif kepada masyarakat. Oleh karena itu, saya melihat perlu adanya intervensi pemerintah untuk mendorong pemanfaatan CSR itu agar lebih efektif, sehingga dapat mendorong kesejateraan masyarakat setempat.

Kedua, penguatan sektor pendidikan. Ini ada hubungannya masalah klasik di Sultra. Banyak yang mengeluh soal lapangan pekerjaan. Kenapa sampai tenaga kerja asing datang dipekerjaan di sana, kenada bukan masyarakat lokal. Selain, tetap mendorong pengutamaan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja, lewat beberapa penandatangan komitmen nantinya. Saya juga berfikir kalau pembangunan di sektor pendidikan juga dapat secara perlahan memutus gap antara masyarakat lokal dan lapangan kerja di sana.

Ketiga, desa mandiri. Di mana sebagai ekonom, ada tiga hal yang penting untuk ditranformasikan di di desa. Pertama, infrastuktur. Ini jelas dapat memotong economic cost yang ada di desa, karena jalan, listrik, jaringan sudah terbangun di desa-desa. Kedua, lokomotif desa. Semisal BUMDes, koperasi, dan wirausaha desa. Tanpa adanya itu semua, sulit sebuah desa memperoleh kemandiriannya. Ketiga, digitalisasi desa. Selain karena harus menyesuaikan diri dengan zaman, digitaliasi dapat mendorong wirausaha di desa menjadi lebih efektif, efisien dan marketibel. Sebab adanya ketebukaan informasi dan berkembangnya berbagai soft-skill yang diperlukan untuk bersaing.

Keempat, pembangunan kesehatan. Ini simple saja. Bagaimana rakyat bisa sejahtera dan berdaulat. Kalau kesehatannya belum terjamin baik.

Apa harapan bapak untuk Sultra nantinya?

Yah itu, tadi “Sultra Berdaulat


Nama : Bahtiar Maddatuang

TTL : Kolaka, 25 Oktober 1982

Pendidikan terakhir : Doktoral (S3)

Riwayat Belajar : Pengalaman Pendidikan Kursus/ Workshop Luar negeri (Executife leadership education,Tempel university, Amerika serikat 2018; INDEF school of Political Economy, Leiden University, Belanda 2019; INDEF & ITIC, Washington DC , Amerika serikat 2019; Industry Skills Development Symposium, Tafe Queensland Australia 2019; Industry & Interpersonal communication For Private leaders University, Australia 2019).



BACA JUGA

SULSEL TODAY