Golkar Sulsel Butuh Figur Muda, Energik dan Transformatif

Redaksi

Thursday, 6 August 2020 | 08:51 Wita


RAGAM.ID, MAKASSAR – Hari ini, Kamis (6/8), DPD I Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) akan menghelat Musyawarah Daerah (Musda) X.

Perhelatan yang awalnya dijadwalkan berlangsung di Makassar, akhirnya dipindahkan ke Jakarta. Lantaran, tak keluarnya izin oleh Polda Sulsel akibat status Kota Makassar yang masih zona merah Covid-19.

Menyambut perhelatan tersebut, Tim Ragam.id melakukan wawancara Khusus dengan pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Andi Lukman Irwan. Mengenai kilas balik Partai Golkar di Sulsel, hingga mengenai masa depan kemimpinan Golkar Sulsel.

Bagaimana pengamatan anda tentang kondisi Partai Golkar di Sulsel saat ini?

Jika dibaca secara sepintas memang Partai Golkar masih bisa mengklaim Sulawesi Selatan sebagai lumbung suaranya. Saya kira ada beberapa alasan atas klaim ini; Pertama, dapat dilihat dari hasil Pemilu 2019, kemarin. Partai Golkar masih memperoleh suara tertinggi di Sulsel. Sehingga secara otomatis, Ketua DPRD Sulsel masih milik Partai Golkar.



Kedua, Bupati/Walikota di Sulsel masih didominasi oleh kader Partai Golkar. Tercatat masih ada, sekitar 8 Bupati dari 24 kabupaten/Kota, diantaranya: Bone, Soppeng, Enrekang, Selayar, Jeneponto, Luwu Timur, Pare-Pare, dan Pangkep.

Ketiga, jumlah anggota legislatif kabupaten/kota di Sulsel terbanyak tetap dari Partai Golkar.

Dengan kondisi data seperti diatas, artinya Sulsel masih dapat dikatakan sebagai lumbung suara partai Golkar?

Secara Normatif, Iya! Tapi jika merujuk pada kecenderungan beberapa kontes pilkada dan pemilu terakhir. Dapat dikatakan bahwa kondisi saat ini, harusnya menjadi “warning” besar bagi Partai Golkar di Sulsel, untuk segera berbenah dan tak menghabiskan energi untuk berkonflik!

Apa maksud anda tentang Partai Golkar Sulsel harus segera berbenah?

Iya, secara kumulatif di atas kertas memang Partai Golkar terlihat masih unggul, tapi jika dibandingkan dengan pencapaian di pemilu dan pilkada sebelumnya, maka temui kecenderungan, terjadinya pergeseran kekuatan politik partai secara signifikan di Sulsel.

Secara kasat mata dapat lihat bersama, posisi Partai Golkar perlahan mulai tergantikan di beberapa daerah penting dengan jumlah pemilih terbesar, dan di beberapa daerah yang menjadi basis tradisional Partai Golkar di Sulsel. Misalnya, di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, posisi ketua DPRD tidak lagi diduduki oleh kader Partai Golkar.

Selanjutnya, yang patut kita amati, ialah hasil pemilihan gubernur Sulsel tahun 2018 lalu. Partai Golkar dengan kekuatan jaringan terbesar di Sulsel tak mampu mendudukkan kadernya sebagai Gubernur terpilih, bahkan diketahui terakhir bahwa Gubernur Nurdin Abdullah lebih memilih untuk bergabung menjadi kader PDI-Perjuangan.

Terakhir, yang patut menjadi renungan peserta Musda, ialah tren pergeseran kepemimpinan daerah, setidaknya ada sekitar 10 kabupaten/kota di sulsel (di luar 8  kabupaten/kota yang masih dipimpin oleh kader Partai Golkar saat ini) yang sebelumnya dipimpin secara tradisional oleh kader Partai Golkar, sejak 10 tahun terakhir telah bergeser ke partai lain.

Fenomena ini, juga berdampak bagi kepemimpinan kader Partai Golkar di tingkat legislatif kabupaten/kota, dimana ketua DPRD-nya bukan lagi kader Golkar. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu kekuatan dominasi besar Partai Golkar di Sulsel adalah kemampuan mencetak kader pemimpin di daerah.

Memang tren pergeseran peta kekuatan Partai Golkar telah terjadi secara nasional, tapi saya kira tren turunnya kekuatan Partai Golkar di Sulsel merupakan sebuah kasus yang istimewa.

Apa maksudnya bahwa Sulsel adalah kasus istimewa bagi Golkar?

Iya betul, istimewa. Jika kita amati sejarah panjang. Sulsel itu warnanya Kuning, Sulsel itu Beringin. Itu jargon yang selalu diagung-agungkan oleh elit dan tokoh Partai Golkar, baik di level nasional maupun level daerah. Tokoh-tokoh yang sukses berkarir di level nasional yang menjadi representasi Sulsel, juga merupakan kader yang dididik dan dibesarkan oleh Partai Golkar. Seperti, Pak Jusuf Kalla, Andi Mattalatta, Nurdin Halid dan anda bisa menambahkan menyebut banyak nama mentereng lainnya.

Boleh dikatakan bahwa Golkar Sulsel adalah dapur utama pencetak kader kepemimpinan politik nasional. Saya kira ini yang harusnya menjadi beban sejarah bagi suksesi kepemimpinan Golkar Sulsel di Musda kali ini.

Pertanyaan terakhir, kembali ke perhelatan Musda, apa yang menjadi masukan anda terutama kepada kader Golkar Sulsel dan pemilik suara di Musda Golkar kali ini?

Oh iya, berbagai catatan riset politik menyatakan bahwa sedang terjadi pergeseran besar, baik secara generasi maupun orientasi pemilih. Dan untuk memperbaiki performa politik, umumnya setiap partai fokus membenahi regenerasi di kepengurusan partai. Bahkan regenerasi di berbagai institusi, baik di pemerintahan maupun di koorporasi.

Suksesor atau penerus Nurdin Halid di Sulsel, harus bertindak cakap menghadapi perubahan gelombang politik. Saatnya Golkar Sulsel dipimpin oleh figur muda, energik dan satu lagi; Transformatif!

Seperti regenerasi kepemimpinan tokoh muda yang telah terjadi di beberapa parpol di Sulsel. Semisal, di Partai NasDem ada sosok Rusdi Masse, Gerindra Sulsel ada Andi Iwan Aras, di PKB ada Ashar Arsyad, dan tentu partai lainnnya.

Catatan saya selanjutya, ketua Golkar Sulsel yang baru bukan hanya figur muda yang mampu merangkul kubu ataupun faksi yang ada, tapi figur yang mampu merangkul kekuatan semua elemen organisasi, tokoh dan bersinergi lintas generasi di Golkar Sulsel.

Sososk transformatif, tentu saja harus punya relevansi dengan perkembangan generasi millenial dan berbagai komunitas kreatif. Punya relasi yang kuat dengan media mainstream serta memahami kekuatan baru komunikasi publik melalui media sosial.

Terakhir, Ketua baru adalah pemimpin yang punya energi untuk berkeliling ke 24 Kabupaten/kota di Sulsel, untuk mengkonsolidasi, memberi support dan mengapresiasi kinerja kepemimpinan dan kader Golkar di Daerah.

Pemimpin yang punya stamina untuk keliling memotivasi kader yang tersebar di 307 Kecamatan serta 30.47 desa dan kelurahan di seluruh Sulawesi Selatan.

Jika isyarat zaman dapat direnungi betul oleh pemilik suara sah Musda Golkar Sulsel. Saya kira, ini bisa jadi momentum “Reborn” Golkar Sulsel. Momen strategis bagi Golkar Sulsel untuk kembali menuju tampuk kejayaan atau tetap terkungkung kesilauan masa lalu.



BACA JUGA

SULSEL TODAY