Hubungan Jepang-Korea Selatan Kembali Memanas Karena Patung Ini

Redaksi

Wednesday, 29 July 2020 | 21:08 Wita

Patung pria yang berlutut di Korea Selatan disebut menyerupai Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. (Foto: Reuters)

RAGAM.ID – Hubungan antara Jepang dan Korea Selatan kembali memanas, kali ini disebabkan oleh sebuah patung yang menggambarkan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe yang sedang berlutut kepada wanita penghibur.

Patung tersebut berada di sebuah kebun raya yang dikelola secara pribadi di daerah pedesaan Pyeongchang, Korea Selatan. Dalam situs web kebun raya itu, patung tersebut diberi nama “Perdamaian Abadi”.

Patung-patung perempuan serupa juga didirikan di depan kantor Kedutaan Besar Jepang di Seoul dan tempat-tempat lain untuk menghormati para perempuan.

Sebagai bentuk protes atas masa lalu. Dimana selama Perang Dunia II perempuan-perempuan Korea dipaksa bekerja di rumah bordil untuk melayani tentara Jepang. 

Persoalan ini telah menjadi salah satu faktor permusuhan kedua negara.  Hingga saat ini, Korea terus menuntut kompensasi atas luka yang dialami para perempuan tersebut.



Sementara itu, Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga mengatakan, jika laporan mengenai patung tersebut benar, maka akan menjadi pelanggaran protokol internasional yang “tidak termaafkan”.

“Jika laporan itu akurat, maka akan ada dampak yang menentukan pada hubungan Jepang-Korea,” ujar Suga dikutip dari Reuters, Selasa (28/7) 

Jepang sendiri menganggap masalah tersebut telah selesai dengan perjanjian 2015 yang dicapai oleh Abe dan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye.

Di dalam perjanjian tersebut Abe meminta maaf dan menjanjikan sejumlah dana sebagai kompensasi para korban. Namun, pemerintah Korea Selatan di bawah kepemimpinan Presiden Moon Jae-in mengatakan kesepakatan tersebut telah cacat.

Aktivis Korea Selatan mengatakan, ada sekitar 200 ribu warga Korea yang menjadi korban pelecehan pasukan Jepang.

Masalah masa lalu tersebut juga sempat memicu panasnya hubungan Korea Selatan dan Jepang pada tahun lalu. Ketika Tokyo membatasi ekspor barang-barang teknologi penting ke Korea Selatan. (*)



SULSEL TODAY